Biro Rektor Universitas Sumatera Utara (061)8214367 sirenbang@usu.ac.id

Prof Bustami Motivasi Anak Muda Belajar ke Luar Negeri di USUtalk 2019

MEDAN – HUMAS USU : Universitas Sumatera Utara melalui Biro Informasi, Perencanaan dan Pengembangan dan bekerjasama dengan USU Media Center menyelenggarakan USUtalk 2019, bertempat di Aula Fakultas Kedokteran USU lantai 3, Senin (9/12/2019). Ajang perdana itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Wakil Rektor IV USU Prof Dr Ir Bustami Syam, MSME, dosen Fakultas Kedokteran USU dr Tengku Kemala Intan, M Pd, M Biomed dan mahasiswa Fakultas Kedokteran peraih juara 1 Indonesian International Medical Olympiad (IMO) 2019 Wilbert Joe.

USU Talk aWakil Rektor IV USU Prof Dr Ir Bustami Syam, MSME, menampilkan materi pembicaraan berjudul Study in Japan : My Success Story, yang merupakan sepenggal kisah tentang perjalanan hidupnya di Negeri Matahari Terbit itu. Dimulai dengan sebuah penegasan, Prof Bustami menyampaikan, bahwa dalam perjalanan meraih kesuksesan, seseorang pasti mengalami suka dan duka. Namun semua itu harus dilalui dengan kesabaran, khususnya ketika dalam proses menuntut ilmu.

“Menuntut ilmu itu wajib dan disyariatkan dalam agama Islam. Maka nilainya berarti ibadah,” katanya sembari menukil hadist yang berkaitan dengan hal tersebut.  

Keinginan untuk menginjakkan kaki ke Jepang, diawali dengan harapan dan mimpi Prof Bustami untuk bisa melanjutkan pendidikan S3 ke Jepang. Untuk itu ia berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan meraih impiannya. Doanya dijawab Sang Khalik dengan keberuntungannya mendapatkan beasiswa Monbusho ke Division of Mechanical and System Engineering, Muroran Institute of Technology, Muroran, Jepang. Dari sanalah segala pengalamannya berbaur dengan bangsa Jepang dan mengenali budaya serta adat istiadatnya bergulir intens. “Ke manapun saya pergi sesungguhnya tidak masalah. Karena saya memiliki hobby dan passion yang bisa disinergikan,” katanya.

USU Talk cProf Bustami, pemegang sabuk hitam dan VI Karate Do,  mensyukuri bahwa ia memiliki kepercayaan diri yang diberikan melalui olahraga karate yang ditekuninya. Bukan itu saja, Karate Do mengajarkan banyak hal tentang hidup harmoni melalui praktek kejujuran, prilaku sopan santun, dan peningkatan prestasi.

Pada bangsa Jepang, lanjut Prof Bustami, dikenal sebuah istilah yang disebut dengan ikigai, atau konsep kebahagiaan yang dimiliki seseorang. Orang Jepang percaya, bahwa mengumpulkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di dalam kehidupan sehari-hari akan mewujudkan kebahagiaan yang lebih besar. Maka hal itu pula yang didapatkannya selama berada di negeri sakura itu, antara lain dengan mendapatkan profesor yang juga seorang pengajar karate. Karate dan golf merupakan dua ikigai yang dimiliki oleh Prof Bustami, yang pada akhirnya membawa sinergi baik dalam perjalanan hidupnya.

Ia mengakui bahwa dirinya sempat stress ketika menunggu hasil risetnya dipublikasikan. Namun saat riset telah terpublikasi, bisa disidangkan dan akhirnya mengantarkan dirinya meraih ijazah doktor, kebahagiaan tak terkira melingkupinya. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika ia telah kembali ke tanah air dan menerapkan seluruh ilmu yang didapatkannya. Antara lain melalui pembuatan alat-alat yang digunakannya selama di Jepang untuk digunakan di Indonesia bagi kepentingan inovasi, predikat peneliti terbaik diraihnya dari DP3M DIKTI pada tahun 1999, sebagai Peneliti Terbaik I Bidang Riset Teknologi Pemaparan Hasil Riset Hibah Bersaing.

USU Talk bPada bagian akhir pemaparannya, Prof Bustami mengajak seluruh hadirin yang umumnya didominasi generasi milenial, untuk meraih kesempatan belajar ke luar negeri. “Belajar ke sana bukan berarti kita menganggap orang-orang di luar negeri itu lebih baik dari kita atau kualitas pendidikan di sana lebih tinggi. Melainkan untuk mengenali perilaku orang-orang dan kebudayaannya,” tandasnya.

Menurutnya, anak-anak Jepang sejak kecil sudah dilatih untuk mendengar dan merespon dengan baik. Ia juga menyatakan, bahwa untuk memahami orang Jepang itu sesungguhnya sangat sulit. Dibutuhkan pendekatan, pengenalan dan pemahaman yang mendalam atas budaya mereka. Jika hal tersebut sudah dilakukan, maka umumnya masyarakat Jepang menjadi lebih terbuka dan bersahabat. (Humas)